Peserta Membeludak, Refleksi 100 Tahun Qahhar Hingga Dini Hari

oleh -35 views

QAHHAR, News — Webinar Refleksi 100 Tahun Abdul Qahhar Mudzakkar diikuti dengan antusias oleh 500an peserta dan berlangsung hingga pukul 01.15 Wita dini hari.

“Alhamdulillah antusias publik di luar dugaan panitia. Quata zoom meeting hanya disiapkan 500 peserta. Maka kami membuka chanel alternatif melalui live YouTube,” jelas panitia dari Qahhar Mudzakkar Center Suwito Fattah di Makassar, Kamis (25/3/2021).

Narasumber yang direncanakan hadir semua, kecuali sejarahwan Anhar Gonggong berhalangan, mereka memaparkan tentang sosok, pemikiran dan perjuangan Qahhar dalam berbagai perspektif.

Dibuka oleh sambutan mewakili keluarga oleh salah seorang putra Qahhar, Hasan Kamal Mudzakkar. Ia berharap webinar tersebut sebagai awal untuk pelaksanaan diskusi sejenis selanjutnya untuk meluruskan pemahaman dan sejarah tentang Qahhar.

Materi pemantik diskusi refleksi 100 tahun Qahhar disampaikan Prof DR Faisal A Bakti akademisi dan juga keluarga besar Qahhar. Sedangkan untuk bedah buku dibuka oleh materi disampaikan pengamat sosial dosen Unhas DR Aswar Hasan.

Berturut-turut tampil memaparkan perspektifnya tentang Qahhar Prof DR Mansyur Suryanegara (Sejarahwan), Tamsil Linrung (Anggota DPD RI Sulsel), DR. Abdullah Hehamahu (Aktivis Islam)

DR Mansyur Ahmad (Akademisi), Prof DR Syahbuddin (Peneliti Abdul Qahhat Mudzakkar), DR. Ahmad Yani (Pakar Tata Negara) dan Dr. Mulyadi, M.Si
(Dosen Program Pascasarjana Ilmu Politik Fisip UI – Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI).

Salah seorang putra Qahhar, Ust DR Ir Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi tampil mengemukakan pendapat di akhir pemaparan seluruh narasumber, menjelaskan, membicarakan orangtuanya tak terlepas dari tiga hal yakni pemikiran Islamnya, pemikiran politiknya dan pemikiran konsepsi ketatanegaraannya.

“Inilah tiga warisan pemikiran yang perlu dirapikan untuk keluar dari definisi dan kontroversi sosok Qahhar. Karena sebenarnya dia tentara yang pemikir, luar biasanya pikirannya dituliskan dalam 15 bukunya,” urai Ust Aziz.■ fir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *