Peran Andi Sose dan Selle Dukung Perniagaan Qahhar Perpanjang Perlawanan DI/TII 

oleh -96 views

Kliping, QahharINSIDE.id — Salah satu cara untuk bertahan hidup dari tekanan pasukan pemerintah, para kombatan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar (Abdul Qahhar Mudzakkar) berdagang. Hasil dari perniagaan ini mereka gunakan untuk membeli bedil dan kebutuhan lainnya.   

Bagi Kahar dan pasukannya, mendapatkan barang dagangan bukan perkara sulit. Daerah pedalaman Sulawesi yang menjadi basis gerilya mereka antara 1950 hingga 1965, merupakan daerah pertanian yang antara lain menghasilkan kopi, kopra, beras, dan lainnya. 

Untuk menjual komoditas tersebut, Kahar punya banyak orang kepercayaan, baik di daerah gerilya maupun di wilayah yang dikuasai pemerintah.  Warsa 1950-an, penyelundupan barang kerap dilakukan para prajurit TNI, termasuk di Sulawesi. 

Panglima Tentara dan Teritorium VII/Wirabuana, Letnan Kolonel JF Warouw, seperti dicatat Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: dari Tradisi ke DI/TII (1989:239), pada Oktober 1954 dihadapkan ke pengadilan karena mendukung penyelundupan. 

Sejumlah perwira di Sulawesi Selatan memang pernah terlibat dalam kasus seperti ini. Bahkan kolega lama Kahar Muzakkar di TNI masih berhubungan dengan pemimpin DI/TII itu. “Keterlibatan DI/TII mengusai sumber-sumber ekonomi itu memungkinkan karena mereka mampu bermain mata dengan para perwira militer, di antaranya Mayor Andi Sose, Kepala Resimen RI 23 Parepare,” tulis Rasyid Asba dalam Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah (2007:229). 

Masih menurut Asba, sumber perekonomian di daerah pedalaman sepenuhnya dikuasai oleh DI/TII. Beras dan kopra adalah komoditas penting di wilayah yang dikuasai Kahar Muzakkar. Tak hanya dengan Andi Sose, DI/TII juga berhubungan dengan Letnan Kolonel Andi Selle Matolla. 

“Bahan-bahan mentah terus menerus dikirim oleh Kahar kepada Andi Selle, dan Andi Selle membajar harga bahan-bahan mentah yang dikirim oleh Kahar itu dengan peluru, dengan sendjata-sendjata berat dan ringan,” tulis Anhar Gonggong dalam Abdul Qohhar Mudzakkar, dari Patriot hingga Pemberontak (2004:406). 

Senjata dan amunisi tentu menjadi salah satu napas perlawanan. Maka itu, persenjataan yang kuat menjauhkan atau memperlambat Kahar Muzakkar dan pasukannya dari kehancuran. 

Setelah 1964, Kahar Muzakkar tak bisa lagi berharap kepada Andi Sose dan Andi Selle. Sose disuruh ke Jakarta oleh atasannya. Sementara Selle terbunuh setelah sebuah insiden dengan atasannya di Wirabuana, yakni Kolonel M Jusuf. 

Terputusnya hubungan antara Kahar Muzakkar dengan dua perwira itu perlahan memperlemah kekuatan DI/TII. Mereka tak bisa lagi berdagang untuk dapat senjata dan perlengkapan lain. 

Setelah 1964, penghancuran DI/TII Kahar Muzakkar menemukan titik terang. Kahar tertembak di bulan Februari 1965 di tepi Sungai Lasalo.  

Perniagaan Sebelum Pertempuran 

Aktivitas perniagaan bukan hal baru bagi Kahar Muzakkar. Ia berasal dari keluarga pedagang. Ayahnya yang bernama Malinrang punya kemampuan berdagang, dan mempunyai sawah serta ladang yang cukup untuk menghidupi keluarga. 

Sementara sang ibu yang bernama Hajjah Kessa, cukup kaya dan terpandang. Sebagai kelas menengah di daerah Luwu, Kahar bisa bersekolah hingga ke Jawa, di sekolah milik organisasi Islam Muhammadiyah. 

Kahar Muzakkar alias La Domeng berusaha menjadi kader Muhammadiyah yang baik. Sepulang bersekolah dari Jawa, ia sempat membantu orangtuanya. “[Kahar] melanjutkan usaha perdagangan orangtuanya, yaitu mengekspor kulit kayu bakko ke negeri Jepang,” tulis BW Lapian dalam Arsip Sekretaris Kabinet Perdana Menteri 1950-1959 nomor 939: Berkas mengenai riwayat hidup Kahar Muzakkar. 

Karena hal itu, namanya masuk ke dalam daftar hitam pemerintah kolonial. Setelah Jepang menduduki Indonesia, Kahar bermasalah dengan kaum adat di Luwu dan harus berurusan dengan polisi. Ia pun meninggalkan kampung halamannya lagi. Kahar mula-mula pergi ke Makassar dan selama enam bulan bekerja di kantor dagang Jepang Ogata Shoten. 

Pertengahan 1943, ia dan keluarga kecilnya berangkat ke Jawa.  “Selama ia berada di Jawa, pekerjaannya berdagang, mendirikan perusahaan Oesaha Moeda di Solo, sampai Jepang menyerah pada Sekutu dan pecahnya revolusi rakyat Indonesia 17 Agustus 1945,” tulis Lapian. 

Soal nama perusahaannya, sumber lain menyebut Oesaha Semangat Moeda. Pada 1945, Kahar Muzakkar ikut angkat senjata dan meninggalkan perniagaan.Setelah kembali ke Sulawesi dan bergerilya melawan pemerintah pusat, barulah Kahar berdagang lagi. 

Ketika kembali ke Sulawesi, ia sudah menikah dengan Corry van Stenus. Meski demikian, Kahar menikahi lagi beberapa perempuan, di antaranya seorang janda bernama Siti Hamie. Menurut Bahar Mattalioe–yang pernah ikut Kahar sebelum berselisih dan mengundur diri–dalam Kahar Muzakkar dengan Petualangannja (1965:75), Siti Hamie adalah istri keempat Kahar selama gerilya di Sulawesi. 

Menurut catatan Nurul Azizah dalam tulisannya “Corry van Stenus, Perempuan dalam Perjuangan Abdul Qahhar Mudzakkar (1950-1965)” di Jurnal Rihlah (volume 8 Nomor 1 Januari-Juni 2020: hal. 8 dan 9), Kahar Muzakkar pernah dijodohkan dengan Siti Hamie waktu ia masih sekolah Standardschool Muhammadiyah di Palopo. 

Siti Hamie menguasai perdagangan kopra di Sulawesi Tenggara. Berkat bantuan Siti Hamie dan saudaranya, Kahar bisa berdagang dengan mengirim kopra ke Singapura. Pengiriman itu terjadi dua kali, yakni di tahun 1955 dan tahun 1957, yang dilakukan lewat Tawao. Hasil penjualan kopra kemudian dipakai membeli senjata api.■

Sumber : https://tirto.id/f5p8.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *