Abd Qahhar Muzakkar Pahlawan yang Terpinggirkan

oleh -165 views

Oleh : Aswar Hasan, Dosen Universitas Hasanuddin

QahharINSIDE.id — Abd Qahhar Muzakkar adalah patriot, pahlawan revolusi. Separuh umurnya diwakafkan untuk berjuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Ia bertarung nyawa untuk RI yang ia cintai. Kepahlawanannya, terekam dalam tinta “emas murni” dalam sejarah perjuangan bangsa yang obyektif.

Abd Qahhar Muzakkar adalah putra Sulsel yang pertama menyandang pangkat tertinggi dalam ketentaraan. Banyak tokoh jenderal, pemimpin yang lahir dari kepemimpinannya. Bahkan, sejumlah mantan anak buahnya itu melampaui pangkat terakhir (Letkol/Kolonel) yang disandangnya. Sebut saja misalnya, Brigjen (TNI) Andi Oddang, Letjen (TNI) Hertasning, hingga jenderal (TNI). M. Jusuf.

Karir militer Abd Qahhar Mudzakkar tidak secemerlang mantan anak buahnya tersebut. Karir militer Abd Qahhar kandas (dikandaskan?) Ketika proses peleburan KGSS (Kesatoean Gerilya Sulawesi Selatan) menjadi APRI(S) (Angkatan Perang Republik Indonesia (Serikat) gagal (“digagalkan”).

Bagi Qahhar, KGSS berhak menjadi APRI(S) secara organik. Jasa mereka sebagai tentara revolusi harus dihargai. Tetapi bagi perwira APRI(S) Kolonel Kawilarang Dkk (yang umumnya mantan KNIL) berkesimpulan harus diseleksi (disaring).

Qahhar tidak terima, karena itu sama halnya tidak menghargai jasa mereka dan merupakan perlakuan tidak adil. Lagi pula, di Jawa dan Sumatera mereka yang tentara rakyat itu telah diakomodir manjadi Brigade dan Divisi, seperti Brigade Mataram dan Divisi Diponegoro dan Siliwangi.

Menurut Qahhar itu bentuk ketidakadilan dan merupakan penzaliman terhadap tentara rakyat, yang harus dilawan. Sejak itu, Qahhar lebih memihak untuk memperjuangkan kepentingan hak tentara rakyat (KGSS) dan menjadi pemimpinnya melawan kebijakan Petinggi pihak APRI (S).

Pangkat resmi Qahhar pun ia tanggalkan secara terhormat. Itulah harga sebuah Siri’ dan Pesse, demi keadilan dan solidaritas sesama pejuang.

Sungguh mahal harga yang harus ditanggung oleh Qahhar. Ia dituduh pemberontak. Meski pun sesungguhnya gara-gara melihat ketidakadilan yang harus dia tentang. Ia pun memilih berseberangan dengan pemerintah. Sikap perlawanannya itu, semakin di perkuat oleh kebijakan rezim Soekarno yang lebih menguntungkan kepentingan komunis/PKI.

Abd Qahhar sangat anti komunis/PKI. Bahkan, ada analisis yang menyatakan bahwa sangat boleh jadi, peminggiran posisi dan peran Qahhar di tubuh militer Indonesia adalah juga manouver PKI.

Bung Tomo dalam risalah singkatnya mengatakan, bahwa salah satu kendala utama Qahhar kembali ke pangakuan RI ketika memilih berseberangan dengan pemerintah RI, adalah ketika unsur PKI masih bercokol di tubuh rezim Orla.

Qahhar adalah sosok yang sangat menentang kezaliman dan membenci setiap pengkhianatan. PKI adalah pengkhianat bangsa dan negara. Maka, Qahhar pun menentangnya. Meski pun, akhirnya ia jadi korban atau “dikorbankan” Wallahu A’lam Bishawwabe.■

*) Terbit di kolom tetap Secangkir Teh, Harian Fajar, Ahad 15 November 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *